Perempuan Sempurna

Bismillahirr Rahmanirr Rahim …

Siapakah Kau, Perempuan Sempurna?

Ketika akhirnya saya dilamar oleh seorang lelaki, saya luruh dalam lelaki itu, kelihatannya ‘relatif’ sempurna. Hapalannya banyak, shalih, pintar. Ia juga seorang aktivis dakwah yang sudah cukup apa coba?

Saya merasa sombong! Ketika melihat para lajang kemudian diwisuda sebagai pengantin, saya secara tak sadar membandingkan, lebih keren mana suaminya dengan suami akhirnya air mata saya harus mengucur begitu deras, ketika suatu hari menekuri 3 ayat terakhir surat At-Tahrim.

Sebenarnya, sebagian besar ayat dalam surat ini sudah mulai saya hapal sekitar 10 tahun silam, saat saya masih semester awal kuliah.

Akan tetapi, banyak hapalan saya menguap, dan harus kembali mengucur bak air hujan ketika saya menjadi satu grup dengan seorang calon hafidzah di kelompok pengajian yang rutin saya terjemah ayat tersebut:

66:10. Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.

66:11. Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim”,

66: 12. dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.

SEBUAH KONTRADIKSI

Ada 4 orang yang disebut dalam 3 ayat tersebut. Mereka adalah Istri Nuh, Istri Luth, Istri Firaun dan Maryam. Istri Nuh (IN), dan Istri Luth (IL) adalah symbol perempuan kafir, sedangkan Istri Firaun (IF) dan Maryam (M), adalah symbol perempuan beriman.

Saya terkejut, takjub dan ternganga ketika menyadari bahwa ada sebuah kontradiksi yang sangat kuat. Allah memberikan sebuah permisalan nan ironis. Mengapa begitu?IN dan IL adalah contoh perempuan yang berada dalam pengawasan lelaki shalih. Suami-suami mereka setaraf Nabi (bandingkan dengan suami saya! Tak ada apa-apanya, bukan?).

Akan tetapi mereka berkhianat, sehingga dikatakanlah kepada mereka, waqilad khulannaaro ma’ad daakhiliin…

Sedangkan antitesa dari mereka, Allah bentangkan kehidupan IF (Asiyah binti Muzahim) dan M. Hebatnya, IF adalah istri seorang thaghut, pembangkang sejati yang berkoar-koar menyebut “ana rabbakumul a’la.”

Dan Maryam, ia bahkan tak memiliki suami. Ia rajin beribadah, dan Allah tiba-tiba berkehendak meniupkan ruh dalam rahimnya. Akan tetapi, cahaya iman membuat mereka mampu tetap bertahan di jalan kebenaran. Sehingga Allah memujinya, wa kaanat minal qaanithiin…

PEREMPUAN SEMPURNA

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:”Sebaik-baik wanita penghuni surga itu adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim istri Firaun, dan Maryam binti Imran.” (HR. Ahmad 2720, berderajat shahih).

Empat perempuan itu dipuji sebagai sebaik-baik wanita penghuni surga. Akan tetapi, Rasulullah saw. masih membuat strata lagi dari 4 orang dua perempuan yang disebut sebagai perempuan sempurna. Rasul bersabda, “Banyak lelaki yang sempurna, tetapi tiada wanita yang sempurnakecuali Asiyah istri Firaun dan Maryam binti Imran.

Sesungguhnya keutamaan Asiyah dibandingkan sekalian wanita adalah sebagaimana keutamaan bubur roti gandum dibandingkan dengan makanan lainnya.” (Shahih al-Bukhari no. 3411).

Inilah yang membuat saya terkejut! Bahkan perempuan sekelas Fathimah dan Khadijah pun masih ‘kalah’ dibanding Asiyah Istri Fir’aun dan Maryam binti gerangan yang membuat Rasul menilai semacam itu?Ah, saya bukan seorang mufassir ataupun ahli hadits.

Namun, dalam keterbatasan yang saya mengerti, tiba-tiba saya sedikit meraba-raba, bahwa penyebabnya adalah karena keberadaan suami.

Khadijah, ia perempuan hebat, namun ia tak sempurna, karena ia diback-up total oleh Rasul terkasih Muhammad saw., seorang lelaki hebat. Fathimah, ia dahsyat, namun ia tak sempurna, karena ada Ali bin Abi Thalib ra, seorang pemuda mukmin yang tangguh.

Sedangkan Asiyah? Saat ia menanggung deraan hidup yang begitu dahsyat, kepada siapa ia menyandarkan tubuhnya, karena justru yang menyiksanya adalah suaminya sendiri.

Siksaan yang membuat ia berdoa, dengan gemetar, “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim.” Siksaan yang membuat nyawanya terbang, ah… tidak mati, namun menuju surga. Mendapatkan rizki dan bersukaria dengan para penduduk akhirat.

Bagaimana pula dengan Maryam? Ia seorang lajang yang dipilih Allah untuk menjadi ibunda bagi Nabi Isa. Kepada siapa ia mengadu atas tindasan kaumnya yang menuduh ia sebagai pezina?Pantas jika Rasul menyebut mereka: Perempuan sempurna…

JADI, YANG MENGANTAR ke Surga, Adalah Amalan KitaJadi, bukan karena (sekadar) lelaki shalih yang menjadi pendamping kita. Suami yang baik, memang akan menuntun kita menuju jalan ke surga, mempermudah kita dalam menjalankan perintah agama.

Namun, jemari akan teracung pada para perempuan yang dengan kelajangannya (namun bukan sengaja melajang), atau dengan kondisi suaminya yang memprihatinkan (yang juga bukan karena kehendak kita), ternyata tetap bisa beramal dan cemerlang dalam cahaya iman.

Kalian adalah Maryam-Maryam dan Asiyah-Asiyah, yang lebih hebat dari Khadijah-Khadijah dan Fathimah-Fathimah.

Sebaliknya, alangkah hinanya para perempuan yang memiliki suami-suami nan shalih, namun pada kenyataannya, mereka tak lebih dari istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth. Yang alih-alih mendukung suami dalam dakwah, namun justru menggelendot manja, “Mas… kok pergi pengajian terus sih, sekali-kali libur dong!” Atau, “Mas, aku pengin beli motor yang bagus, gimana kalau Maskorupsi aja…”

Benar, bahwa istri hebat ada di samping suami hebat. Namun, lebih hebat lagi adalah istri yang tetap bisa hebat meskipun terpaksa bersuamikan orang tak hebat, atau bahkan tetapi melajang karena berbagai sebab nan syar’i. Dan betapa rendahnya istri yang tak hebat, padahal suaminya orang hebat dan membentangkan baginya berbagai kemudahan untuk menjadi hebat. Hebat sebagai hamba Allah Ta’ala!Wallahu a’lam bish-shawwab.

(By: Afifah Afra)

Semoga Bermanfaat…

===

#re-share dr grup sblh

Aku Hidup Untuk Hari Ini

bikecycle-vintage-hd-wallpapers

Sepeda, kendaraan “ajaib” yang bisa membawa kita menjelajah dunia.

Semua orang pasti memiliki cita-cita dan mimpi, kalau seorang dokter pasti gak jauh-jauh dari keinginan menjadi dokter spesialis, dosen, professor, relawan ataupun ilmuan. Kita memang dianjurkan memiliki mimpi yang besar, jangan pernah meremehkan mahakarya Tuhan dengan pilihan hidup kita yang kerdil, jangan pernah melecehkan mahakarya Tuhan dengan aktivitas kita yang kecil. Apalagi kita cuman hidup sekali. Corazon Aquino pernah berkata “Aku lebih memilih mati secara berarti daripada hidup tanpa arti”. Hanya orang putus asa yang tidak memiliki ambisi untuk menjadikan hidupnya berarti. Suatu kazaliman yang tak terkira jika kita menjadikan karya yang begitu istimewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah. Lahir, hidup, lalu mati tanpa meninggalkan warisan prestasi dan kontribusi.

Sedikit saya akan menceritakan mimpi dan cita-cita saya. Suatu saat nanti saya ingin menjadi spesialis jantung dan pembuluh darah atau spesialis anak, meneruskan pendidikan S2 atau bahkan S3 saya, menjadi seorang ibu rumah tangga yang sukses membesarkan anak-anak yang terdidik dan terjaga baik lahir maupun bathin nya, menjadi istri sholehah yang bisa menjaga harta dan kehormatan suaminya, menjadi anak yang bisa membanggakan kedua orang tua, menjadi muslimah yang setia dijalan dakwah, memiliki yayasan panti asuhan atau paling tidak menjadi penyumbang setia. Semua itu mimpi yang bisa terwujud maupun tidak, mungkin nanti ada perubahan misalnya karena sibuk jadi ibu rumah tangga, jadinya saya malah ngambil spesialis patologi klinik saja, who knows? Atau berputus asa karena dulu, misalnya tidak lulus ujian, tidak mendapatkan nilai yang bagus, nilai pas-pasan, itu semua bukan “excuse” untuk menjadikan hidup kita dimasa kini dan masa depan tidak berarti.

Mimpi itu ada dimasa depan, dan masa depan itu hadir jika kita bisa melewati masa kini. Masa depan itu akan sampai jika kita selamat melewati masa kini. Jadi apakah kita akan sampai dimasa depan jikalau dimasa kini saja kita tidak fokus mengerjakan sesuatu?

Jika kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yag telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum tentu datang, hari yang saat ini mataharinya menyinarimu, dan siangnya menyapamu, inilah harimu.

Umur kita, mungkin tinggal hari ini. Makan, anggaplah masa hidup kita hanya hari ini, atau seakan-akan kita dilahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup kita tak akan tercabik-cabik diantara gumpalan-gumpalan keresahan, kesedihan, duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan.

Pada hari ini pula, sebaiknya kita mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari inilah, kita harus bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu, bacaan Al-Qur’an yang sarat tadabbur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik terjadap sesame.

Pada hari dimana kita hidup saat inilah sebaiknya kita membagi waktu dengan bijak. Jadikanlah setiap menitnya laksana ribuan tahun dan setiap detiknya laksana ratusan bulan.  Tanamlah kebaikan sebanyak-banyaknya pada hari itu. Dan, persembahkanlah sesuatu yang paling indah untuk hari itu. Ber-istighfar-lah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada-Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan! Terimalah rejeki, istri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu dan jabatan kita dengan penuh keridhaan.

“Maka berpegangteguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang yang bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 144)

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian.

Jangan lupa, hendaklah kita goreskan pada dinding hati kita satu kalimat (kalau perlu tulis juga di dinding kamar, huehehe) : Hariku adalah hari ini!

Yakni, bila hari ini kita dapat memakan nasi uduk yang harum baunya, maka apakah nasi basi yang telah kita makan kemarin atau nasi uduk esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan kita?

Jika kita bias minum air soda dingin hari ini, maka mengapa kita harus bersedih atas air asin yang kita minum kemarin, atau mengkhawatirkan air hambar dan bau esok hari yang belum tentu terjadi!

Jika kita percaya pada diri sendiri, dengan semangat dan tekad yang kuat, maka akan dapat menundukkan diri untuk berpegang pada prinsip : aku hanya akan hidup hari ini. Prinsip inilah yang akan menyibukkan diri kita setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi dan mensucikan setiap amalan.

Dan itu, akan membuat kita berkata dalam hati, “Hanya hari ini aku berkesempatan untuk mengatakan yang baik-baik saja. Tak berucap kotor dan jorok yang menjijikan, tidak akan pernah mencela, menghardik dan juga membicarakan kejelekan orang lain. Hanya hari ini aku berkesempatan memberekan kosan biar engga semrawut dan berantakan. Dan karena hanya hari ini saja aku akan hidup, maka aku akan memperhatikan kebersihan tubuhku, kerapihan penampilanku, kebaikan tutur kata dan tingkahlakuku”.

Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb-ku, mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat sunah, berpegang teguh pada Al-Qur’an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat.

Aku hanya akan hidup hari ini, karenanya aku akan menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, ujub, riya dan suudzhan.

Hanya hari ini aku akan dapat menghirup udara kehidupan, maka aku akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kepada siapapun. Aku akan berbakti kepada orang tua.

Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akan mengucapkan…

“Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu, aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetikpun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak kan pernah kembali lagi.”

“Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan.”

“HARI INI MILIK KITA!”

Adalah ungkapan yang paling indah dalam kamus kebahagiaan. Kamus bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang paling indah dan menyenangkan 😀

 

Akibat Ilmu Pengetahuan

 

Ada sesuatu yang ingin saya ceritakan, suatu hari di departemen ilmu kedokteran forensik (di Bandung), datang sebuah kasus kecelakaan lalu lintas (KLL). Kecelakaan ini menimpa sepasang suami istri yang berkendara dengan sebuah motor. Terjadi sebuah kecelakaan (mekanisme kurang diketahui) dimana motor tersebut menabrak sebuah truk didepannya, sang istri tewas seketika dan sang suami mengalami luka-luka. Kepolisianpun akhirnya meminta kami –yang berada di departemen forensik—untuk melakukan otopsi terhadap mayat korban (sang istri). Ketika dilakukan otopsi, terdapat beberapa kejanggalan yang ditemukan, diantaranya jenis luka yang bisa dikatakan “aneh”. Luka-luka tersebut dalam ilmu kedokteran forensik disebut dengan luka “post-mortem”, jadi luka tersebut timbul setelah korban meninggal dunia. Jadi, bisa dibilang, korban telah tewas sebelum terjadinya kecelakaan. Wow, tentu ini mengejutkan semua pihak, termasuk polisi, karena status dari kasus ini bisa berubah dari yang tadinya kecelakaan lalu lintas biasa, menjadi kasus kriminal.

Hikmahnya, dengan ilmu pengetahuan kita bias mengetahui kebenaran, dengan ilmu kita bias mengubah sesuatu.

 “Dan, Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah itu sangat besar “ (QS. An-Nisa;113)

Kebodohan merupakan tanda kematian jiwa, terbunuhnya kehidupan dan membusuknya umur.

“Sesungguhnya, Aku mengingatkan kepadamu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan” (QS. Hud;46)

Sebaliknya, ilmu adalah cahaya bagi hati nurani, kehidupan bagi ruh dan bahan bakar bagi tabiat.

“Dan, apakah orang yang mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang berkali-kali tidak dapat keluar daripadanya?” (QS. Al-An’am:122)

Kebahagiaan, kedamaian, dan ketentraman hati senantiasa berawal dari ilmu pengetahuan. Itu terjadi karena ilmu mampu menembus yang samar, menemukan sesuatu yang hilang, dan menyingkap yang tersembunyi. Selain itu, naluri dari jiwa manusia itu adalah selalu ingin mengetahui hal-hal yang baru dan ingin mengungkap sesuatu yang menarik.

Kebodohan itu sangat membosankan dan menyedihkan. Pasalnya, ia tidak pernah memunculkan hal baru yang lebih menarik dan segar, yang kemarin seperti hari ini dan yang hari ini pun akan sama dengan yang akan terjadi esok hari.

Bila kita ingin senantiasa bahagia, tuntutlah ilmu, galilah pengetahuan dan raihlah pelbagai manfaat, niscaya semua kesedihan, kepedihan, dan kecemasan itupun akan sirna.

Alangkah mulianya ilmu pengetahuan. Alangkah gembiranya jiwa seseorang yang menguasainya. Alangkah segarnya dada orang yang penuh dengannya, dan alangkah leganya perasaan orang yang menguasainya.

#StaseForensik

#LaTahzan

Print

Kalau Kena Kritikan Terus…

Sang Pencipta dan Pemberi rezeki Yang Maha Mulia, acapkali mendapat cacian dan cercaan dari orang-orang pandir yang tak berakal. Maka, apalagi saya, kamu dan kita sebagai manusia biasa yang selalu terpeleset dan salah.

Dalam hidup ini,  terutama jika kita seseorang yang selalu memberi, memperbaiki, mempengaruhi dan berusaha membangun, maka kita akan selalu menjumpai kritikan-kritikan yang pedasss dan paittt. Mungkin pula, sesekali kita akan dapet cemoohan dan hinaan dari orang lain…

Dan mereka… nggak akan pernah diam mengkritik kita sebelum kita masuk kedalam liang lahat, menaiki tangga ke langit, dan berpisah dengan mereka.

Adapun bila kita masih berada di tengah-tengah mereka, maka akan selalu ada perbuatan mereka yang membuat kita bersedih dan meneteskan air mata.

Adapun mereka, marah, kesal kepada kita adalah karena mungkin kita mengungguli mereka dalam hal kebaikan, keilmuan, tindak-tanduk, ataupun harta. Jelasnya, kita dimata mereka adalah orang berdosa yang tak terampuni sampai kita melepaskan karunia dan nikmat Allah yang pada diri kita, atau sampai kita meninggalkan semua sifat terpuji dan nilai-nilai luhur yang selama ini kita pegang teguh. Dan menjadi kita yang bodoh, pandir, dan tolol adalah yang mereka inginkan dari diri kita.

Oleh sebab itu, waspadalah terhadap apa yang mereka katakan. Kuatkan jiwa untuk mendengar kritikan, cemoohan dan hinaan mereka. Bersikaplah laksana batu cadas, tetap kokoh berdiri meski diterpa butiran-butiran salju yang menderanya setiap saat, dan ia justru semakin kokoh karenanya. Artinya, jika kita merasa terusik dan terpengaruh oleh kritikan dan cemoohan mereka, berarti kita telah meluluskan keinginan mereka untuk mengotori dan mencemarkan kehidupan kita. Padahal, yang terbaik adalah menjawab atau merespon kritikan mereka dengan menunjukkan ahklak yang baik. Acuhkan saja mereka, dan jangan pernah merasa tertekan oleh setiap upaya mereka untuk menjatuhkan kita. Sebab, kritikan mereka yang menyakitkan itu pada hakekatnya merupakan ungkapan penghormatan untuk kita yakni semakin tinggi derajat seseorang maka akan semakin pedas pula kritikan itu.

Betapapun, kita akan kesulitan membungkam mulut mereka, yang kita mampu adalah hanya mengubur dalam-dalam setiap kritikan mereka, mengabaikan solah polah mereka pada kita, dan cukup mengomentari setiap perkataan mereka dengan baik, bahkan kita juga dapat ‘menyumpal mulut mereka’ dengan ‘potongan-potongan daging’ agar diam seribu bahasa dengan cara memperbanyak keutamaan, memperbaiki ahklak dan meluruskan setiap kesalahan kita.

Dan bila yang kita inginkan adalah diterima oleh semua pihak, dicintai semua orang, dan terhindar dari cela, berarti kita telah menginginkan sesuatu yang mustahil terjadi dan mengangankan sesuatu yang terlalu jauh untuk diwujudkan.

unduhan#LaTahzan

#TheBetterWomanProject

 

Yang Lalu Biarlah Berlalu

The Beatles

The Beatles

Meskipun gambar yang saya pasang disini adalah punyanya grup band legendaris asal Liverpool, the beatles, yang lagunya berjudul “yesterday”, tapi isi dari tulisan dibawah gak ada hubungannya dengan grup band atau lagunya tersebut (lebih karena saya fans the beatles dan tulisan saya dibawah tema nya mirip dengan judul lagu tersebut) hehe..

Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubah masa depan yang belum terjadi.

Bagi orang yang berpikir, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Cukup ditutup rapat-rapat, lalu disimpan dalam ‘ruang’ penglupaan, diikat dengan tali yang kuat dalam ‘penjara’ pengacuhan selamanya… Atau, diletakan di dalam ruang gelap yang tak tertembus cahaya. Yang demikian, karena masa lalu telah berlalu dan habis. Kesedihan tak akan mampu mengembalikannya lagi, kegundahan tidak akan mampu mengubahnya menjadi terang, dan kegalauan tidak akan dapat menghidupkannya kembali, karena ia memang sudah tidak ada.

Jangan pernah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, atau dibawah payung gelap masa silam. Selamatkan diri kita dari bayangan masa lalu!

Apakah kita ingin mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke tempatnya terbit, seorang bayi ke perut ibunya, dan air mata kedalam kelenjar air mata? Ingatlah, keterikatan kita dengan masa lalu, keresahan kita atas apa yang telah terjadi padanya,  keterbatasan emosi jiwa kita oleh api panasnya, dan kedekatan jiwa kita pada pintunya, adalah kondisi yang sangat naïf, ironis, memprihatinkan dan sekaligus menakutkan.

Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga. Dalam Al-Qur’an, setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum dan apa saja yang telah mereka lakukan, Allah selalu mengatakan “Itu adalah umat yang lalu.” Begitulah, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya mengurai kembali bangkai zaman dan memutar kembali roda sejarah.

Orang yang berusaha kembali ke masa lalu, adalah tak ubahnya orang yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu.

Nenek moyang kita dulu selalu mengingatkan orang yang meratapi masa lalunya demikian : ”Janganlah engkau mengeluarkan mayat-mayat itu dari kuburnya”.

Adalah bencana besar, manakala itu rela mengabaikan masa depan dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Padahal, betapapun  seluruh manusia dan jin bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab, yang demikian itu sudah mustahil pada asalnya.

Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melihat dan sedikitpun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus kedepan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka itu, janganlah pernah melawan sunnah kehidupan.

 

#La Tahzan (dengan modifikasi)

#TheBetterWomanProject

Curcol Sedikit Tentang Sekolah

Dulu, pas smp atau sma, kebanyakan pelajaran yang dikuasain itu yang sifatnya bisa dihafal, kalau perlu hafal mati. Kayak dulu sempet ikutan olimpiade biologi sma, teknik belajar yang dikuasain ya menghafal, sampe kuliah di sarjana kedokteran juga kayak gitu, masih menghafal. Padahal teknik terbaik yang selalu dibilang guru-guru saya dulu adalah mengerti, bukan menghafal. Betul memang, saya semakin mengerti saat kuliah tingkat atas menuju koas. Di koas saya sudah meninggalkan cara belajar dengan menghafal, kecuali ya menghafal obat-obat serta dosis serta golongannya. Jika mempelajari suatu bidang ilmu, yang harus dikuasai pertamakali ya dasar ilmunya, karena dasar ilmu yang saya miliki sebagian besar saya dapat di kuliahan sarjana dulu, yg notabene waktu itu didapat dengan cara menghafal, ya setelah beberapa waktu berlalu, hafalan itupun luntur, jadinya di koas harus mengulang kembali dasar” ilmu tersebut (meskipun hanya mekanisme terjadinya penyakit yang harus diulang). Paling tidak ada bayangan kenapa gejalanya begini, begitu, kenapa dikasih obat ini itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, kebiasaan menghafalpun sepertinya mulai menurun, apalagi jika ilmu yang dipelajari lebih banyak praktek daripada teori. Hal ini berpengaruh pada ilmu yang didapat, suatu ketika, saya dihadapkan pada departemen yang lebih banyak praktek daripada teori, yang lebih nempel di otak ya prakteknya, saya bisa ingat karena saya mengerti dan saya melakukan langsung.

Sedangkan saat ujian yang dinilai ya kemampuan teoritisnya, ya memble lah hasilnya. Jadi saya kurang setuju jika ada departemen yang kesehariannya kita dituntut untuk praktek banyak ke pasien, misalnya….obgyn, tapi ujiannya teoritis sekali, padahal saat praktek, kadang berbeda penatalaksanaan di buku dengan realitanya. Mungkin idealnya…ujiannya itu langsung praktek partus ke pasien aja! (Kalo ada temen saya yang baca bisa-bisa saya digebukin nih).

Lain halnya dengan ilmu-ilmu yang diharuskan mengerti, seperti penyakit dalam atau penyakit kulit kelamin, tuntutan belajar dan ujiannya memang sinkron. Teori dan praktek hampir sama, ya hampir sama, karena di ilmu kedokteran itu gaada yang saklek 100%, makanya disebut seni, bukan 1+1=2 (hitung menghitung adalah pelajaran yg saya benci).

Sekarang saya di dept anestesi dan terapi intensif, dan besok ujian, tapi apa yang sudah saya pelajari dari buku? Tidak ada, saya belajar dari praktik sehari hari. Dan besok ujian teori, tapi untungnya anes itu ilmunya sinkron antara praktek dan teori dan hal yang dituntut juga sedikit, jadinya agak santai sih hehee. Baiklah, ga usah muluk muluk, pelajarin yang penting penting ajadeh. Saat saya jaga di kamar operasi, ada seorang residen yang mengajari perhitungan cairan rumatan untuk tindakan operasi, mungkin karena melihat mata saya yg ga semangat, residen itupun bilang ” Udahlah dek, kamu mah gakan jadi spesialis anes kan? Udah jadi dokter kulit ajadeh!” Tau aja dok hihihi.

Okelah, cukup sekian curcol saya, tulisan yg mungkin kurang berkualitas, cocoknya ditulis dibuku diary pribadi, tapi berhubung saya malas nulis, jadi saya ketik aja, mohon doanya untuk ujian 3 hari kedepan. Sekian dan terimakasih.

Penghalang Shalat Malam

 

image

Fudhail bin ‘Iyâdh berkata, “Bila engkau tidak sanggup melaksanakan shalat (tahajjud) di malam hari dan puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa engkau orang yang terhalang (dari kebaikan) lagi banyak dosa.”

Seorang lelaki berkata kepada Hasan al-Bashri , “Sesungguhnya aku tidur dalam keadaan sehat, aku sangat ingin bangun melaksanakan shalat malam dan telah ku persiapkan air untuk bersuci, namun mengapa aku tetap tidak bisa bangun (disepertiga malam terakhir)?”
Beliau menjawab, “Engkau telah dibelenggu oleh dosa-dosamu.”

Bila seseorang tidak bisa mengerjakan shalat malam, maka hendaklah dia merenungi pernyataan seorang dari generasi Salaf, “Bila engkau belum bisa mengambil bagian di waktu malam, maka janganlah engkau bermaksiat kepada Rabbmu di waktu siang.”
Sahl bin Sa’ad menuturkan, “Jibril pernah datang menemui Nabi seraya berkata, ‘Hai Muhammad! Hiduplah sesukamu, sesungguhnya kematian pasti akan menjemputmu. Cintailah siapa saja yang engkau senangi, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan beramallah semaumu, sesungguhnya engkau akan menuai balasannya’.
“Kemudian Jibril berpesan, ‘Hai Muhammad, kemuliaan seorang Mukmin terletak pada shalat malam dan kehormatannya adalah pada saat ia tak lagi bergantung pada manusia’,”
(HR. Thabrani dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albâni dalam silsilah ahâdîtsis shahîhah, no. 831).

Astaghfirullaahal ‘Azhiim…. Maafkan kami atas tumpukan dosa-dosa kami yang menghalangi kami dari menghadap-Mu…